JAKARTA
- Sejak menjadi Ketua Mejelis Permusyawaratan Rakyat pada Oktober 2009,
Taufiq Kiemas getol mempromosikan empat pilar Negara, yakni Pancasil,
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Tek berlebihan bila banyak yang menyebut upayanya mempromosikan keempat pilar tersebut sebagai warisan paling monumental dari kepemimpinan Taufiq, yang berpulang Sabtu lalu di Singapura.
Tak sekadar mempromosikan, dia sekaligus mempraktekkannya dalam
kehidupan politik sehari-hari. Pembawaannya yang hangat, terbuka, dan
egaliter membuat Taufiq mudah diterima kawan maupun mereka yang
berseberangan pandangan.
Dalam politik praktis, dia memahami betul
adagium “tak ada teman dan musuh yang abadi kecuali Kepentingan”. Itulah
yang diterapkan dalam menjalin hubungan dengan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyo.
Dengan telaten, Taufiq terus membujuk istrinya, Megawati,
yang tersingkir, untuk mencairkan hubungan seperti yang dilakukannya.
Belum sepenuhnya berhasil memang.
Tapi sesungging senyum
diperlihatkan Megawati saat Presiden Yudhoyono menyalaminya setelah
menyerahkan gelar pahlawan nasional untujjk Sukarno beberapa waktu lalu.
Kita sependapat empat pilar yang dipromosikan Taufiq Kiemas sebagai salah satu warisan fenomenal.
Karena itu, kalau masyarakat ingin menghormati almarhum yang terbaik
adalah kembali menghayati dan mengamalkan pilar bangsa. DTK/INT


